Membaca Kondisi Lanskap sebagai Dasar Pengambilan Keputusan: Rapid Assessment Sosio-Ekonomi dan Agronomi di Pangalengan, Kabupaten Bandung
- Sosial Bisnis Indonesia
- May 28
- 3 min read

Pada Februari hingga Maret 2026, PT Sosial Bisnis Indonesia (SOBI) bersama Circular Bioeconomy Alliance (CBA) melaksanakan Socioeconomic and Agronomic Rapid Assessment di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini merupakan tahap awal untuk memahami kondisi sosial, ekonomi, agronomi, serta dinamika kelembagaan di lanskap Gunung Tilu sebagai dasar dalam menilai potensi dan kesiapan wilayah untuk pengembangan pendekatan Living Lab.
Assessment dilakukan di dua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), yaitu LMDH Kubang Sari di Desa Pulosari dan LMDH Wanasari di Desa Warnasari. Kedua LMDH tersebut berada dalam lanskap yang sama dan memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan kopi berbasis kawasan hutan melalui skema Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).
Melibatkan Berbagai Pemangku Kepentingan

Rapid assessment dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam pengelolaan lanskap dan pengembangan komoditas kopi di Bandung Selatan. Selain petani dan pengurus LMDH, kegiatan ini juga melibatkan Perhutani, pemerintah desa, kelompok tani hutan, pelaku usaha kopi lokal, koperasi, serta organisasi yang selama ini aktif dalam isu pengelolaan sumber daya alam dan pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan berbagai pihak ini sangatlah penting mengingat lanskap Gunung Tilu merupakan kawasan yang memiliki banyak aktor pengelola dengan peran dan kepentingan yang saling terkait.
Pada lanskap Gunung Tilu, Perhutani, sebagai pengelola kawasan hutan negara, bekerja sama dengan masyarakat melalui skema Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Masyarakat terorganisasi dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang berperan sebagai mitra dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan.

Di Desa Pulosari dan Desa Warnasari, kemitraan tersebut berkembang melalui pengelolaan kopi arabika yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Selain memiliki nilai ekonomi bagi petani, kopi juga dipandang memiliki potensi untuk mendukung pengelolaan kawasan yang lebih berkelanjutan apabila dikembangkan dengan praktik budidaya yang sesuai dengan karakteristik lanskap hutan.
Metodologi Assessment Multi-Dimensi

Agar memperoleh gambaran yang menyeluruh, SOBI menerapkan metodologi assessment berbasis bukti (evidence-based assessment) dengan mengintegrasikan tiga dimensi utama:
1. Dimensi Sosio-Ekonomi (Socioeconomic Assessment)
Pada dimensi ini, assessment dilakukan dengan menggunakan Sustainable Livelihood Framework untuk memetakan berbagai aset penghidupan masyarakat, meliputi modal manusia, sosial, fisik, alam, dan finansial. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan anggota masyarakat dari berbagai kelompok usia dan gender. Selain memahami strategi penghidupan rumah tangga, analisis juga mencakup aspek Gender Equality and Social Inclusion (GESI) untuk melihat pembagian peran, akses terhadap sumber daya, serta tingkat keterlibatan perempuan dan kelompok usia muda dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan di tingkat komunitas.

2. Dimensi Rantai Nilai (Value Chain Assessment)
Assessment rantai nilai dilakukan untuk memahami bagaimana kopi bergerak dari tingkat produksi hingga pasar. Analisis mencakup pemetaan aktor, hubungan antar pelaku usaha, aliran produk, serta distribusi nilai di sepanjang rantai pasok. Melalui pendekatan ini, SOBI memperoleh gambaran mengenai posisi petani dalam sistem pemasaran yang ada, peluang peningkatan nilai tambah di tingkat lokal, serta faktor-faktor yang memengaruhi pengembangan komoditas kopi di wilayah tersebut.

3. Dimensi Agronomi (Agronomic Assessment)
Pada dimensi agronomi, tim melakukan evaluasi terhadap kondisi fisik dan biofisik lahan, kesesuaian lahan untuk budidaya kopi arabika, produktivitas tanaman, serta praktik budidaya yang diterapkan petani. Assessment juga mencakup observasi terhadap pemeliharaan tanaman, pengelolaan vegetasi, pembibitan, hingga praktik pascapanen. Pendekatan ini membantu memberikan gambaran mengenai kondisi budidaya yang berjalan saat ini sekaligus mengidentifikasi peluang penguatan kapasitas teknis di tingkat petani.

Pembelajaran Awal sebagai Dasar Pengambilan Keputusan

Hasil rapid assessment menunjukkan bahwa kedua LMDH memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mendukung pengembangan sistem agroforestri berbasis kopi. Keberadaan kelembagaan lokal, pengalaman masyarakat dalam mengelola lahan, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan kopi menjadi modal penting yang telah tumbuh di tingkat lanskap.
Di saat yang sama, assessment juga mengidentifikasi sejumlah area yang masih dapat diperkuat untuk mendukung pengembangan yang lebih berkelanjutan. Beberapa di antaranya mencakup peningkatan praktik budidaya, pengembangan kapasitas petani, penguatan kelembagaan lokal, serta perluasan akses dan konektivitas dalam rantai nilai kopi.

Temuan-temuan tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat, dinamika kelembagaan, sistem rantai nilai kopi, serta praktik pengelolaan lahan yang berkembang di kedua LMDH.
Keseluruhan informasi yang diperoleh dari rapid assessment menjadi dasar penting untuk memahami peluang dan tantangan yang ada dalam pengembangan lanskap ke depan. Tidak hanya menjadi proses pengumpulan data, rapid assessment menjadi bagian strategis dalam membangun pemahaman bersama mengenai kondisi lanskap Gunung Tilu dan hubungan antaraktor yang terlibat di dalamnya. Pemahaman secara utuh ini diharapkan dapat mendukung penyusunan strategi yang lebih sesuai dengan konteks lokal, memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta menjadi dasar bagi pengambilan keputusan yang lebih terarah, partisipatif, dan berbasis bukti.



Comments