top of page

SOBI Berbagi Pendekatan Rantai Pasok Kayu Berkelanjutan Berbasis Hutan Rakyat di Forum Internasional LMCs (Like-Minded Countries)

  • Writer: Sosial Bisnis Indonesia
    Sosial Bisnis Indonesia
  • Jul 28
  • 3 min read

PT Sosial Bisnis Indonesia (SOBI) dipercaya menjadi salah satu narasumber strategis dalam agenda internasional "Capacity Building Training for Like-Minded Countries: Sustainable Timber". Program pelatihan peningkatan kapasitas ini diinisiasi oleh Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University yang bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.



Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada rentang Juni hingga Juli 2026 ini diselenggarakan di beberapa lokasi, mulai dari Jakarta, kawasan hutan tanaman dan hutan konservasi di Banyuwangi, hingga ditutup di IPB International Convention Center (IICC), Bogor. Kegiatan tersebut mempertemukan para pemangku kepentingan dari 19 negara* lintas benua, termasuk perwakilan kementerian yang membidangi kehutanan dan lingkungan hidup, untuk mempelajari kebijakan dan praktik pengelolaan komoditas kayu berkelanjutan di Indonesia, khususnya yang melibatkan petani kecil (smallholders). SOBI hadir dalam sesi khusus pada Selasa, 30 Juni 2026, guna membagikan model konkret tata kelola kayu yang bertanggung jawab dengan menempatkan petani rakyat sebagai aktor utama.


Menjawab Tantangan Global Petani Kecil



Dalam pemaparannya, Matt Danalan Saragih selaku President Director SOBI menguraikan tantangan mendasar yang dihadapi oleh industri kehutanan dan para petani kecil saat ini. Di tengah potensi besar komoditas kayu tropis Indonesia, keterbatasan akses terhadap teknologi, modal, dan pasar internasional sering kali menjadi penghambat bagi para petani dalam memenuhi standar legalitas yang ketat.

Menjawab hal tersebut, SOBI menerapkan pendekatan bisnis sosial (social business) terintegrasi guna menjembatani kesenjangan tersebut melalui roadmap operasional bertahap:


  • Pre-Operational & Feasibility Study (1 Bulan): SOBI memulai intervensi dengan melakukan penilaian kelayakan mendalam di wilayah target. Fase ini mencakup analisis profil sosio-ekonomi masyarakat lokal, pemetaan status hukum dan legalitas hutan rakyat, serta evaluasi terhadap kondisi infrastruktur fisik dan aksesibilitas pasar.

  • Social Engagement (3–6 Bulan): Fokus pada pembangunan kepercayaan (trust-building) dengan komunitas lokal. SOBI memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok tani atau koperasi lokal agar memiliki struktur manajemen yang solid sebelum memasuki aktivitas komersial.

  • Technical Assistance (12 Bulan): Pendampingan teknis secara intensif dalam jangka panjang. Para petani dibekali pelatihan praktik pengelolaan hutan lestari, manajemen kesehatan tanah, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga pemenuhan sistem dokumentasi ketertelusuran kayu yang memenuhi standar regulasi seperti SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kelestarian) maupun FSC (Forest Stewardship Council).

  • Branch Establishment & Audit: Pembentukan kantor unit operasional terdekat guna mendampingi proses bisnis secara kontinu dari hulu hingga hilir. Pada tahap akhir, sistem ini diperkuat melalui mekanisme audit internal dan eksternal secara berkala untuk menjaga konsistensi kepatuhan terhadap standar.


Matt juga menegaskan bahwa kunci utama dari keberlanjutan industri kayu bukan hanya menjaga tegakan pohon di hutan, melainkan memastikan kesejahteraan para petani yang merawatnya. Melalui model bisnis sosial ini, SOBI memposisikan diri bukan hanya sebagai pembeli komoditas (offtaker), melainkan sebagai mitra tumbuh bersama yang mentransformasi tata kelola hutan rakyat dari metode tradisional menuju ekosistem industri yang akuntabel, terlacak, dan berdaya saing global.


Mendorong Kolaborasi Lintas Negara (Like-Minded Countries)



Model pengelolaan rantai pasok yang dipaparkan oleh SOBI turut memicu diskusi interaktif di antara para delegasi negara sehaluan (Like-Minded Countries). Para peserta menunjukkan ketertarikan terhadap regulasi dan tata kelola komoditas kayu berkelanjutan di Indonesia, khususnya dalam konteks pengelolaan hutan rakyat oleh petani kecil (smallholders). Pengalaman Indonesia dinilai relevan karena banyak negara peserta juga menghadapi tantangan serupa dalam membangun rantai pasok kayu yang legal, berkelanjutan, dan inklusif.


Kehadiran SOBI dalam forum pelatihan peningkatan kapasitas (capacity building) ini memberikan perspektif praktis mengenai bagaimana sektor swasta berbasis sosial (social business) mampu menyelaraskan aspek kelestarian lingkungan dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, para delegasi dari 19 negara peserta, seperti Brasil, Kolombia, Ghana, Malaysia, hingga Papua Nugini dapat mempelajari model pemberdayaan ini sekaligus memperoleh gambaran mengenai implementasi regulasi kehutanan Indonesia yang mendukung pengelolaan komoditas kayu berkelanjutan berbasis petani kecil.


Pelaksanaan acara kolaborasi multipihak yang melibatkan akademisi (IPB University), pemerintah (Kementerian Luar Negeri), hingga sektor swasta seperti PT SOBI juga mengirimkan sinyal kuat ke pasar internasional bahwa produk kayu berbasis hutan rakyat dari Indonesia mampu memenuhi standar ketat di pasar global, termasuk Uni Eropa. Melalui pelaksanaan model ini, SOBI optimistis Indonesia dapat terus mendorong tata kelola komoditas kehutanan berkelanjutan berbasis kemasyarakatan.


*Daftar Negara Peserta LMCs Sustainable Timber 2026: Forum internasional ini dihadiri oleh delegasi dari 19 negara sehaluan (Like-Minded Countries), yang mencakup wilayah Amerika Latin & Karibia (Argentina, Brasil, Bolivia, Ekuador, Kolombia, Paraguay, Peru, Republik Dominika, Saint Lucia, Guatemala, Honduras, Meksiko), Afrika (Ghana, Pantai Gading, Namibia, Nigeria), serta Asia-Pasifik (Malaysia, Thailand, Papua Nugini).

 

Comments


© 2024 by PT Sosial Bisnis Indonesia | Phone: (021) 29490488 | Follow us: 

  • Instagram
  • Linkedin
bottom of page